Showing posts with label nirmana. Show all posts
Showing posts with label nirmana. Show all posts

Wednesday, 26 January 2011

Nirmana dkk (Looking back at those times..)

Kalau melihat statistik, ternyata banyak yang kesasar ke blog saya karena kata 'nirmana'- yang hanya sedikit saya sebutkan atau tampilkan dalam "Tragedi Memori di Panggung Dentuman Besar". Mendengar kata 'nirmana' lagi, saya serasa diingatkan pada masa-masa saya TPB SR dulu. I couldn't believe I eventually got through it.. save and sound! I won't mention the whys and hows. These works of my friends (and some are mine) remind me that no matter how hard it was, it's over now! Yeah, difficult times become sweet when told as past stories.



 

 




 




NB:
Some works aren't photographed with the creator's name due to the limitation of my camera, sorry for that.

Saturday, 1 March 2008

Tragedi Memori di Panggung Dentuman Besar

[tanggal asli penulisan: 2008.02.29.Vendredi]







Katanya setiap orang memilikinya: sifat lupa.

Lupa. Maklum, manusia.”

Ia sudah lupa daratan!”

Apa yang dimaksud dengan lupa dalam konteks ini?

Kalau “lupa” ini dikotak-kotakkan jadi dua macam kelupaan, akan didapati jenis lupa yang sengaja dan tidak disengaja. So, arahnya jelas: yang “disengaja”, atau dengan kata lain masih dibawah kontrol kesadaran biasa disebut “khilaf”. Yang tidak disengaja, ya... yang biasa disebut dengan “lupa” itu sendiri.

Lho... kalau melihat dari pernyataan ini, “lupa” sepertinya memiliki hubungan analogis (atau malah sinonim??) dengan “kesalahan”! [Kesalahan: disengaja/tidak disengaja]

Eh? Tapi kalau orang yang “lupa” belum tentu bisa disebut “salah” kan?

Hahaha... pusing.

Bukankah lebih baik membicarakan “ingatan” daripada “lupa”? ...he? Hehehe...Lucunya, dua-duanya sama-sama masalah INGATAN!

Pusing lagi.

Hmmmhh.... apa yang bisa membuat seorang A ingat suatu kejadian, dan seorang B tidak mengingat suatu kejadian yang sama?

Jawaban yang berkali-kali kudengar dan kubaca adalah:

Keterlibatan emosi. Stimulus yang menarik (ada ‘keterikatan’ emosi, baik terpaksa/tidak) akan memicu seluruh indra dan hard disk tubuh ini untuk bekerja keras merekam momennya.

Hah! Sepertinya buatku TIDAK cukup!!

Berkali-kali tertindas, tertikam, terhempas... hingga “terangkat ke langit” dan tercerahkan... tapi tak satu memori pun yang bertahan menghadapi “Sang Labirin”.

Dimensi demi dimensi memang termanifestasi... tapi semua harus dimulai dari NOL BESAR!! Ketika sebuah bangunan agung terwujud mantap, saat itu pula ia harus dihancurkan. Satu batu-bata terakhir menjadi penanda keruntuhannya, sekaligus lahirnya bangunan baru. Tapi kuakui, bangunan yang baru memang selalu LEBIH BAIK yang sebelumnya.



Sama persis seperti konsep Nirmana 3D. Semua bermula dari elemen, modul. Sedikit ‘pelipatan’ akan berdampak pada seluruh struktur, sesederhana apa pun itu. Perubahan tingkat dari satu dimensi ke dimensi labirin lainnya bagaikan semesta yang mencapai titik kulminasi keseimbangannya, tapi lalu mengerut, runtuh, seluruh entitas materinya, kemudian lahir kembali dengan struktur dan sistem yang berbeda di setiap elemennya. Ya. Dentuman Besar.